A.
Latar Belakang
KVA merupakan suatu
kondisi dimana mulai timbulnya gejala kekurangan konsumsi vitamin A. Defisiensi
vitamin A dapat merupakan kekurangan primer akibat kurang konsumsi. KVA dapat
pula disebut kekurangan sekunder apabila disebabkan oleh gangguan penyerapan
dan penggunaan vitamin A dalam tubuh, kebutuhan yang meningkat, atau karena
gangguan pada konversi karoten menjadi vitamin A. KA sekunder dapat terjadi
pada penderita KEP, penyakit hati, alfa dan beta lipoproteinemia, atau gangguan
absorpsi karena kekurangan asam empedu.
Seseorang dikatakan defisiensi vitamin A
bila mengonsumsi kurang dari anjuran normal. Untuk wanita dewasa normal anjuran
konsumsi vitamin A sebanyak 500 RE per hari, sedangkan untuk wanita hamil
ditambahkan 200 RE dan wanita menyusui ditambahkan 350 RE. Pada pria dewasa
dianjurkan mengonsumsi 500-700 RE per hari.
KVA sering timbul pada balita dan
anak-anak. Di Indonesia, kecukupan gizi anak usia hingga
tiga tahun seharusnya sebesar 350-400 RE per hari. Namun, dalam
beberapa survey dikatakan bahwa 50% anak berusia 1-2 tahun tidak mengonsumsi
vitamin A dalam jumlah yang memadai karena faktor kemiskinan dan malnutrisi. Selama
krisis ekonomi melanda Indonesia sejak tahun 1997, daya beli masyarakat menurun
sehingga terjadi kecenderungan meningkatnya KVA pada ibu hamil dan balita.
·
KVA pada Balita
Vitamin A berfungsi
sebagai sistem kekebalan tubuh dan sistem pernapasan. Pada anak yang KVA,
pertahanan tubuhnya menjadi rusak. Krisis ekonomi menurunkan daya beli masyarakat
sehingga secara tidak langsung menyebabkan krisis kesehatan dan gizi (KVA).
Program penanggulangan KVA dengan distribusi kapsul vitamin A secara selektif
dan fortifikasi bahan makanan. KVA pada balita sangat tergantung pada ketahanan
pangan keluarga, sanitasi lingkungan dan pengasuhan orang tua yang baik.
·
Kekurangan Vitamin A
Vitamin A berfungsi dalam
fungsi penglihatan, pertumbuhan dan perkembangan. Pangan sumber vitamin A yaitu
hati, kuning telur, susu, dan buah. Penyebab KVA diantaranya konsumsi vitamin A
yang rendah, faktor sosek, pengetahuan ibu, dan faktor infeksi. Program
pencegahan KVA dengan menambahkan vitamin A pada bahan makanan dan distribusi
kapsul vitamin A secara berkala. Kendala program diantaranya dana, sosialisasi,
distribusi suplemen vitamin A, dan kesadaran masyarakat.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini selain sebagai tugas kelompok pada mata kuliah
gizi masyarakat, juga bertujuan untuk mengetahui masalah-maslah gizi yang
terjadi di masyarakat, sehingga dalam makalah ini membahas salah satu masalah
gizi masyarakat yaitu kekurangan vitamin A (KVA)
C. Rumusan permasalahan
1.
Epdemiologi Kurang Vitamin A (KVA)
2.
Patofisiologi Kurang Vitamin A (KVA)
3.
Diagnosaa Komunitas Kurang Vitamin A (KVA)
4.
Program Intervensi Kurang Vitamin A (KVA)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan
disimpan dalam hati, tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi
dari luar (essensial), berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan
daya tahan tubuh terhadap penyakit (Depkes RI, 2005).
Kurang Vitamin A (KVA) merupakan penyakit sistemik yang
merusak sel dan organ tubuh dan menghasilkan metaplasi keratinasi pada epitel,
saluran nafas, saluran kencing dan saluran cerna. Penyakit Kurang Vitamin A
(KVA) tersebar luas dan merupakan penyebab gangguan gizi yang sangat penting.
Prevalensi KVA terdapat pada anak-anak dibawah usia lima tahun. Sampai akhir tahun 1960-an KVA merupakan penyebab utama kebutaan pada anak (Arisman 2002).
Masalah gizi adalah gangguan pada beberapa segi
kesejahteraan perorangan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak
terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Sedang yang
dimaksudkan dengan zat gizi adalah zat kimia yang terdapat dalam makanan yang
diperlukan manusia untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Sampai saat ini
dikenal berbagai macam zat gizi yang digolongkan menjadi dua yaitu zat gizi
makro (zat gizi sumber energi seperti karbohidrat, lemak dan protein) serta zat
gzizi mikro seperti vitamin dan mineral (Soekirman 2000)
Kurang
Vitamin A (KVA) merupakan masalah gizi yang
serius. Bersama dengan Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), dan
Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), KVA merupakan empat masalah gizi utama di
Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian yang menyatakan
bahwa setengah dari populasi balita di Indonesia beresiko menderita kekurangan
vitamin A.
Vitamin
A berperan penting dalam penglihatan, pemeliharaan jaringan epitel, serta pertumbuhan
dan sistem imun. Oleh karenanya, KVA menjadi permasalah serius, terutama bagi
balita dan anak-anak. KVA dapat menyebabkan berbagai dampak seperti kebutaan
dan hambatan pertumbuhan, bahkan dapat menyebabkan kematian.
KVA bukan hanya menyebabkan
timbulnya gangguan penglihatan, tetapi juga menimbulkan gangguan pertumbuhan
karena hambatan pembelahan dan pertumbuhan sel. Tarwotjo (1990) mengungkapkan
bahwa KVA taraf ringan (XN dan XIB) tidak menghambat pertumbuhan bobot badan
anak usia 0-6 tahun, tapi menghambat pertumbuhan tinggi anak pada usia
tersebut. KVA tingkat berat (X2/X3) berasosiasi dengan gangguan pertumbuhan
kecebolan dan kekurusan. Menurut Linder (1992) vitamin A berperan dalam
diferensiasi sel-sel epitel dan reproduksi. Sedangkan menurut Ismadi (1998)
vitamin A berperan untuk sekresi mucus dan mempengaruhi resistensi terhadap
infeksi.
Vitamin A berperan penting pada proses
penglihatan. Kemampuan mata melihat pada keadaan remang tergantung pada
Rhodopsin (penerima langsung energi cahaya selama melihat dalam cahaya redup).
Pada retina (Linder 1992) Rhodopsin merupakan senyawa anatara retinol-delhida
(vitamin A) dengan protein. Dengan demikian tanpa status vitamin A yang cukup
maka suplai vitamin A ke retina kurang memadai sehingga penderita mengalami
kesulitan melihat pada cahaya remang-remang, disebut buta senja (Husaini 1982).
BAB III
PEMBAHASAN/DISKUSI
1.
Epidemiologi
Hasil kajian berbagai studi menyatakan bahwa vitamin A merupakan zat gizi
yang essensial bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting dan konsumsi
makanan kita cenderung belum mencukupi dan masih rendah sehingga harus dipenuhi
dari luar. Pada anak balita akibat KVA (Kekurangan Vitamin A) akan meningkatkan
kesakitan dan kematian, mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang
paru-paru, pneumonia, dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak sangat
serius dari KVA adalah buta senja dan manifestasi lain dari xeropthalmia
termasuk kerusakan kornea dan kebutaan. Vitamin A bermanfaat untuk menurunkan
angka kematian dan angka kesakitan, karena vitamin A dapat meningkatkan daya
tahan tubuh terhadap penyakit infeksi seperti campak, diare, dan ISPA (Infeksi
Saluran Pernapasan Akut).
Ibu nifas yang cukup mendapat vitamin A akan meningkatkan kandungan vitamin
A dalam air susu ibu (ASI), sehingga bayi yang disusui lebih kebal terhadap
penyakit. Disamping itu kesehatan ibu lebih cepat pulih. Upaya perbaikan status
vitamin A harus mulai sedini mungkin pada masa kanak-kanak terutama anak yang
menderita KVA (Depkes RI, 2005).
Vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan
kelangsungan hidup. Di seluruh dunia (WHO, 1991), diantara anak-anak pra
sekolah diperkirakan terdapat sebanyak 6-7 juta kasus baru xeropthalmia
tiap tahun, kurang lebih 10% diantaranya menderita kerusakan kornea. Diantara
yang menderita kerusakan kornea ini 60% meninggal dalam waktu satu tahun,
sedangkan diantara yang hidup 25% menjadi buta dan 50-60% setengah buta.
Diperkirakan pada satu waktu sebanyak 3 juta anak-anak buta karena kekurangan
vitamin A, dan sebanyak 20-40 juta menderita kekurangan vitamin A pada tingkat
lebih ringan. Perbedaan angka kematian antara anak yang kekurangan dan tidak
kekurangan vitamin A kurang lebih sebesar 30% (Almatsier, 2003).
Penelitian yang dilakukan World Health Organization (WHO) tahun 1992
menunjukkan dari 20 juta balita di Indonesia yang berumur enam bulan hingga
lima tahun, setengahnya menderita kekurangan vitamin A. Sedangkan data WHO
tahun 1995 menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang tingkat
pemenuhan terhadap vitamin A tergolong rendah (www.sinarharapan.com,
2005).
Sementara studi yang dilakukan Nutrition and Health Surveillance System
(NHSS), dan Departemen Kesehatan (2001) menunjukkan sekitar 50% anak Indonesia
usia 12-23 bulan tidak mengkonsumsi vitamin A dengan cukup dari makanan
sehari-hari. Siti Halati, Manajer Lapangan Operasional HKI, mengatakan angka
kecukupan gizi (AKG) anak balita sekitar 350 Retinol Ekvivalen (RE).
Angka ini dihitung dari kandungan vitamin A dalam makanan nabati atau hewani
yang dikonsumsi.
Departemen Kesehatan sendiri gencar melakukan program penanggulangan
kekurangan vitamin A sejak tahun 1970-an. Menurut catatan Depkes, tahun 1992
bahaya kebutaan akibat kekurangan vitamin A mampu diturunkan secara signifikan.
(www.sinarharapan.com, 2005).
2.
Patofisiologi
Beberapa penyakit akibat kekurangan vitamin A :
Xeroftalmia adalah istilah yang menerangkan gangguan
kekurangan vitamin A pada mata, termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata
dan gangguan fungsi sel retina yang berakibat kebutaan. Kata Xeroftalmia
(bahasa latin) berarti “mata kering”, karena terjadi kekeringan pada selaput
selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata.
v Penyebab
Xerfotalmia
Xeroftalmia terjadi akibat tubuh kekurangan vitamin A. Bila
ditinjau dari konsumsi makanan sehari-hari kekurangan vitamin A disebabkan
oleh:
- Konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin A atau pro-vitamin A untuk jangka waktu yang lama.
- Bayi tidak diberikan ASI Eksklusif
- Menu tidak seimbang (kurang mengandung lemak, protein, seng/Zn atau zat gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan vitamin A dan penggunaan vitamin A dalam tubuh
- Adanya gangguan penyerapan vitamin A atau pro-vitamin A seperti pada penyakit-penyakit antara lain penyakit pancreas, diare kronik, KEP dan lain-lain sehingga kebutuhan vitamin A meningkat.
- Adanya kerusakan hati, seperti pada kwashiorkor dan hepatitis kronik, menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan pre-albumin yang penting untuk penyerapan vitamin A.
v Tanda-tanda
dan Gejala Klinis
KVA adalah kelainan sistemik yang mempengaruhi jaringan
epitel dari organ-organ seluruh tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata dan organ
lain, akan tetapi gambaran yang karakteristik langsung terlihat pada mata.
Kelainan kulit umumnya terlihat pada tungkai bawah bagian
depan dan lengan atas bagian belakang, kulit tampak kering dan bersisik seperti
sisik ikan. Kelainan ini selain disebabkan karena KVA dapat juga disebabkan
karena kekurangan asam lemak essensial, kurang vitamin golongan B atau Kurang
Energi Protein (KEP) tingkat berat atau gizi buruk.
Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami
KVA yang telah berlangsung lama. Gejala tersebut akan lebih cepat timbul bila
anak menderita penyakit campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya.
Gejala klinis KVA pada mata menurut klasifikasi WHO/USAID
UNICEF/HKI/IVACG, 1996 sebagai berikut:
- Buta Senja (Hemeralopia, nyctalopia) - XN
- Xerosis Konjunctiva - XIA
- Xerosis Konjunctiva disertai bercak bitot - XIB
- Xerosis Kornea – X2
- Keratomalasia atau Ulserasi Kornea kurang dari 1/3 permukaan kornea – X3A
- Keratomalasia atau Ulserasi sama atau lebih dari 1/3 permukaan kornea – X3B
- Jaringan Parut Kornea (Sikatriks/scar) - XS
- Fundus Xeroftalmia dengan gambaran seperti “cendol” - XF
XN, XIA, XIB, X2 biasanya dapat sembuh kembali normal dengan
pengobatan yang baik. Pada stadium X2 merupakan keadaan gawat darurat yang
harus segera diobati karena dalam beberapa hari bisa berubah menjadi
keratomalasia.
X3A dan X3B bila diobati dapat sembuh tetapi dengan
meninggalkan cacat yang bahkan dapat menyebabkan kebutaan total bila lesi
(kelainan) pada kornea cukup luas sehingga menutupi seluruh kornea (optic
zone cornea).
1. Buta Senja = Rabut Senja = Rabun Ayam
= XN
v
Tanda-tanda:
a. Buta senja terjadi akibat gangguan
pada sel batang retina
b. Pada keadaan ringan, sel batang retina
sulit beradaptasi di ruang yang remang-remang setelah lama berada di cahaya
terang
c.
Penglihatan
menurun pada senja hari, dimana penderita tak dapat melihat di lingkungan yang
kurang cahaya, sehingga disebut buta senja.
v Cara mendeteksi buta senja pada
anak-anak:
a.
Bila
anak sudah dapat berjalan, anak tersebut akan membentur/menabrak benda
didepannya, karena tidak dapt melihat.
b.
Bila
anak belum dapat berjalan, agak sulit untuk mengatakan anak tersebut buta
senja. Dalam keadaan ini biasanya anak diam memojok bila di dudukkan di tempat
kurang cahaya karena tidak dapat melihat benda atau makanan di depannya
2. Xerosis Konjungtiva = XIA
v
Tanda-tanda:
a.
Selaput
lendir bola mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit kering,
berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam.
b. Orang tua sering mengeluh mata anak
tampak kering atau berubah warna kecoklatan
3. Xerosis Konjungtiva dan Bercak Bitot =
X1B
v
Tanda-tanda:
a.
Tanda-tanda
xerosis konjunctiva (X1A) ditambah bercak bitot yaitu bercak putih seperti busa
sabun atau keju terutama di daerah celah mata sisi luar.
b. Bercak ini merupakan penumpukan
keratin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia,
sehingga dipakai sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam
masyarakat
v Dalam Keadaan Berat:
a. Tampak kekeringan meliputi seluruh
permukaan konjunctiva.
b.
Konjungtiva
tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut.
c.
Orang
tua mengeluh mata anaknya tampak bersisik.
4. Xerosis Kornea = X2
v Tanda tanda:
a. Kekeringan pada konjungtiva
berlanjut sampai kornea
b.
Kornea
tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar
c.
Keadaan
umum anak biasanya buruk (gizi buruk dan menderita, penyakit infeksi dan
sistemik lain.
5. Keratomalasia dan Ulcus Kornea =
X3A, X3B
v Tanda-tanda:
a. Kornea melunak seperti bubur dan
dapat terjadi ulkus
b.
Tahap
X3A: bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan kornea
c.
Tanap
X3B: bila kelainan mengenai semua atau lebih dari 1/3 permukaan kornea
d.
Keadaan
umum penderita sangat buruk
e.
Pada
tahap ini dapat terjadi perforasi kornea (kornea pecah)
Keratomalasia dan tukak kornea dapat berakhir dengan
peforasi dan prolaps jaringan isi bola mata dan membentuk cacat tetap yang
dapat menyebabkan kebutaan. Keadaan umum yang cepat memburuk dapat
mengakibatkan keratomalasia dan ulkus kornea tanpa harus melalui tahap-tahap awal xeroftalmia.
6. Xeroftalmia Scar (XS) =
sikatriks (jaringan parut) kornea
Kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak
mengecil. Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa
sikatrik atau jaringan parut. Penderita menjadi buta yang sudah tidak dapat
disembuhkan walaupun dengan operasi cangkok kornea.
7. Xeroftalmia Fundus (XF)
Prinsip dasar untuk mencegah xeroftalmia adalah memenuhi
kebutuhan vitamin A yang cukup untuk tubuh serta mencegah penyakit infeksi
terutama diare dan campak. Selain itu perlu memperhatikan kesehatan secara umum.
Sumber : http://windawardaini.blogspot.com/
0 komentar:
Post a Comment